Two Choices
Rasya
masih mengotak-atik milkshake coklatnya sambil melamun dengan tatapan kosong
yang tidak pernah bisa diungkapkan. Tapi, raut wajahnya terlihat begitu suram
tidak seperti Rasya yang selalu ceria dengan kondisinya. Yang selalu menebar banyak
senyum ke siapapun hingga bisa dikatakan layaknya orang gila yang menertawakan
imajinasi yang menurutnya lucu. Ia masih menunggu Dea membawa pesanannya. Ya,
mereka memilih tempat nongkrong favorit mereka, dimana makanan atau pesanannya
langsung dibayar sebelum dibawa, hanya makanan yang butuh proses lama yang akan
diantar pelayan. Mereka lebih menyukainya, ketika menikmati obrolan, tidak akan
ada jeda ketika pelayan dating memberhentikan obrolan seru.“So, what you think about Ben?” Dea
mengeluarkan keingintahuannya setelah kemarin berhasil menangkap arah
pembicaraan Rasya via chat biasa. Ia mengalihkan tatapannya dari segelas es
lemon yang berada di depannya. Tidak kurang, tidak lebih. Tatapan khawatir itu
jelas terpampang di raut wajah cantik Rasya.Rasya
mendesah. Ia tak tahu harus memulainya darimana. “Gimana denganmu dan Azka?
Baik-baik?” Ucapnya ragu. Dea mendesah pelan. Mengendikkan bahu tanpa tak tahu.
Ia berjengit tak percaya. “Ben baik, tapi ada hal lain yang aku bingungkan.”“Apa?” Pertanyaan itu keluar dari
tatapan mata Dea yang langsung menghujan ke mata sayu Rasya. Rasya menggeleng
pelan. Seolah ia ingin tahu seberapa besar masalahnya. Apa yang Rasya pikirkan
hingga kekhawatiran itu keluar menapakkan aura negatif yang membuatnya sahabatnya
terlihat begitu tertekan.
“Ben
melamarku.” Ucapnya ragu-ragu dengan nada yang lirih. Rasya Nampak murung.
Mendesah pelan dan kembali mengubek milkshake yang masih terlihat utuh.“Lalu?”
Dea masih terlihat antusias dengan cerita sahabatnya. Tidak mau memotong
ataupun langsung menyerobot paksa. Hanya mendengarkan apa yang tengah
dipikirkan Rasya.Banyak
waktu-waktu yang memaksa mereka berdiam diri. Rasya dengan dunianya sendiri,
tenggelam dengan lamunannya tanpa diketahui pasti sebabnya.Ben
yang diketahui Dea adalah cowok dengan reputasi keren di kampusnya dulu. Atlet
basket, pengurus ikatan mahasiswa, dan berasal dari keluarga terpandang. Masih
ia ingat betul awal mulanya Dea tahu bahwa Ben menaruh hati pada Rasya.“De,
kapan nongkrong lagi?” Dea menyelidik heran. Bukan tanpa alasan, Ben terlihat
sebagai cowok yang jarang banget atau mungkin jual mahal untuk terlihat dekat
dengan cewek. Meski satu jurusan, dan sekelas, Ben tidak pernah menyapa Dea
sebelum akhirnya Rasya hadir.“Beni.
Biasa dipanggil Ben.” Ia mengulurkan tangannya tepat di hadapan rasya yang
masih sibuk dengan buku yang ia pegang. Nampak terlihat polos nan lugu, Rasya
tak merespon uluran tangan itu hingga Dea yang terpaksa turun tangan menyikut
Rasya pelan.Dan,
setelah adegan perkenalan yang lama-lama membuatnya terkekeh itu, Ben semakin
dekat dengan Rasya. Namun, entah apa yang dipikirkan gadis itu, ia sedikit
menjaga jarak. Dea baru mengenal Rasya di semester kedua, jadi Dea pun belum
mengerti betul karakter Rasya kecuali pendiam. Tidak banyak bicara, tapi
sebenarnya ia gadis asyik. Hanya saja, ketika berhadapan dengan cowok, ia
langsung berubah menjadi dingin dan cuek. Seolah mereka tidak pernah muncul.“Aku
bingung, De.” Rasya buka suara. Ia masih memandang lalu lalang jalanan dengan
kendaraan beroda dua yang mulai ramai.“Kalian
sudah mapan Ras. Kamu kerja, Ben juga kerja. Mau keluarganya memandang kamu
sebelah mata, itu udah bukan urusan lagi. Kamu punya peng…” Belum sempat Dea
menutup penjelasannya, Rasya perlahan menggeleng. Ia menggeleng berkali-kali
seolah lebih menjelaskan bahwa bukan itu masalah sebenarnya. Siapa yang tidak
mau dengan Ben yang ganteng, punya tubuh tinggi dengan kulit putih, punya
pekerjaan mapan hingga keluarga
terpandang. Setiap gadis tak akan pernah bisa menolaknya, bahkan menolak untuk
menjadi istrinya. Dea berkali-kali menyindirnya untuk lelucon jika memergoki
Rasya yang diantar pulang oleh Ben sewaktu kuliah hingga setelah mereka menjadi
pekerja antoran seperti saat ini.“Bukan
itu, lalu kenapa? Dari dulu kamu kan bingung masalah financial? Sekarang
pekerjaanmu oke, gaji oke, mau nunggu apalagi? Ksempatan nggak dating dua kali
lo Ras. Dea mencoba mendesak sahabatnya untuk buka suara. Apalagi yang Rasya
takutkan, apalagi yang Rasya pikirkan.“Apa,…
Jangan-jangan,..” Dea mendelik pelan. Memainkan jari telunjuk ke bibirnya
berulang-ulang. Sontak membuat Rasya menatapnya penuh tanda tanya. Dea
mengibaskan tangannya, “ah, lupakan!” Ia kembali menyeruput lemon nya tanpa
memperhatikan Rasya yang mulai diburu cemas.“Kamu
kan nggak pernah punya pacar, Ras. Lalu, apalagi yang kamu bingungkan?” Ia
menyerobot sorot mata ingin tahu Rasya dengan tanda tanya yang mulai membuatnya
semakin ingin tahu sisi lain pikiran sahabatnya itu.Ponsel
Rasya berdering. Sedikit mengalihkan perhatian keduanya. Dea yang kembali
menikmati pesanannya, sementara Rasya hanya melirik ponselnya yang berdetas di
meja. Ia tak bergeming. Hanya menatapnya dalam. Nama Melvin muncul. Dea yang
penasaran sedikit mencuri pandangpada layar ponsel yang berada tak jauh
darinya. Rasya tetap bergeming. Seolah ponsel itu bukan miliknya.“Ponselmu!”
Dea menghardiknya pelan. Rasya tersenyum kecut. Tidak ingin menekan tombol
reject atau menekan tombol hijau untuk mengangkatnya. Hanya dibiarkan bergetar
dan berkedip hingga sambungan berhenti dengan sendirinya. Rasya memejamkan
mata. Ia kembali teringat memori kemarin malam yang membuatnya diombang ambing
oleh perasaan manusiawi bernama cinta.“Hai,
Ras!” Melvin tiba-tiba berada di depannya. Menarik kursi dan duduk di depannya
tanpa basa-basi. Rasya yang tengah menikmati novel favoritnya itu hanya melotot
tak percaya akan kehadiran lelaki yang kini lebih terlihat rapi daripada
delapan tahun yang lalu.“Sudah
lama? Sendiri?” Basa-basi pertama yang terlontar dari Melvin untuk pertemuan
pertama sejak peristiwa yang membuat hatinya beku. Dingin sedingin es, hingga
tak seorangpun mampu melelehkannya menjadi hangat.Rasya
hanya mengangguk seperlunya, menggeleng atau sedikit jawaban yang sekiranya
memang diperlukan. Hingga Melvin pamit di sore bekas hujan yang berhenti
setelah obrolan pendek dan singkat dengannya. Melvin tersenyum dan meninggalkan
Rasya yang duduk terpaku di tempatnya.“Siapa?”
Ben yang baru tiba dan memang melihat Melvin terlihat ramah pada Rasya
bertanya. Rasya dan Ben memang teman semenjak kuliah, Ben yang intens mendekati Rasya dengan segala
kejutekan gadis itu, tetap pantang menyerah untuk berhenti. Meskipun hingga
ucapan lamarannya kali ini, mereka belum berstatus pacar. Hanya teman.Rasya
menceritakan kejadian Melvin yang kembali. Bukan, tepatnya pertemuan tak
terduga dengan Melvin, dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya yang memang
bakalan terjadi dan permintaan Ben untuk menjadi pendampingnya.“Lalu,
kamu masih cinta sama si Melvin itu?” Tanya Dea tanpa tedeng aling-aling. Rasya
menggeleng pelan. Tapi setengah dipaksakan. Melvin dengan dirinya sudah tak
pernah bertemu semenjak delapan tahun yang lalu. Semenjak orang tuanya harus menanggung malu, semenjak
ia harus pergi meninggalkan kota kelahirannya hanya karena hubungannya dengan
Melvin diketahui keluarga besar Melvin yang merupakan salah satu orang
terpandang di kotanya. Mereka yang masih sama-sama anak ingusan dan tidak bisa
apa-apa hanya bisa pasrah. Melvin pun sudah dijodohkan dengan sahabat papanya
yang lebih mempunyai segalanya dan dari keluarga yang setara. Pengusiran
halus, hingga tekatnya yang besar membuat dirinya meninggalkan kedua orang
tuanya. “Aku rela nggak dapat warisan, atau bahkan harus memulai dari nol tanpa
melibatkan fasilitas papaku asal dengan kamu, Ras.” Melvin menggenggam erat
kedua tangan Rasya yang kembali dipertemukan di kafe tempat mereka bertemu
sebelumnya.“Apa
kamu pikir, aku masih ada rasa sama kamu?” Melvin serasa ditohok, mendengar
perkataan yang tiba-tiba keluar dari mulut Rasya. Dingin dan begitu kokoh,
tidak ada senyum manis itu. Hilang bahkan tanpa bekas.Rasya
menampirk genggaman tangan Melvin. “Kita, nggak bisa Mel. Semuanya udah
berlalu. Bener kata mamamu. Kita hanya cinta monyet biasa.”“Lalu??”Tanya
Dea antusias. Rasya tidak tahu menahu. Pikirannya tidak pernah menggambarkan
jelas cinta itu seperti apa. Kenapa cinta harus terhalang kaya dan miskin.
Atasan dan bawahan. Ben, lelaki yang selama ini meminta rasa yang mungkin
sebenarnya sudah tak tersisa, adalah sosok yang pantas. Pikir Rasya Ben adalah
sosok ideal yang mampu menggantikan Melvin. Namun nyatanya, ketika Melvin
kembali, luka yang dulu pernah ada sedikit terbuka, namun ia tak bisa membenci
atau menyanggah bahwa hatinya masih untuk Melvin seorang.“Aku
nggak butuh jabatan tinggi atau harus menikahi Rachel agar statusku bisa lebih
kuat sebagai pemegang saham di perusahaan papa. Kalaupun aku kehlangan
semuanya, aku nggak mau kehilangan kamu lagi, Sya.” Melvin terlihat serius
dengan kata-katanya. Melvin bukan tipe penggombal yang hobi cari sensasi
sana-sini. Ia dulu anak laki-laki yang manis, yang baik hati dan sekarang
tumbuh menjadi sosok berwibawa yang penuh pesona.“Nggak
semudah itu Melv!” Rasya menimpali sinis. Tatapannya sedikit terluka. Bahkan
untuk urusan ini sungguh lebih rumit.“Dan,
itu tanda bahwa kamu masih saying sama Melvin, Ras!” Dea memberikan
tanggapannya. Setelah seharian mendengarkan cerita Rasya yang menguras emosi.
Tempat makan yang tadinya sepi juga sudah mulai beranjak penuh.
Bangku-bangkunya mulai silih berganti pelanggan. Dea pun sudah menghabiskan
segelas lemonnya dan berganti dengan jus apel untuk yang kedua.“Hufft.”
Rasya mendesah pelan. Memandang layar ponselnya yang kini berganti memunculkan
rangkaian B-E-N besar di layar.“Dan,
keputusanmu?”Rasya
menggeleng. Tiba-tiba Melvin sudah berdiri di sampingnya. Mengenakan kaos polo
putih dan celana jeans hitam yang pas dengan tubuhnya ia mengagetkan Dead an
Rasya. Sontak, Rasya yang kaget dengan muka tak percaya, Dea yang melongo
terpesona dengan wajah rupawan khas keturunan bangsawan itu mendadak bungkam.“Ikut
aku sekarang juga!” Melvin menyeretnya paksa hingga Rasya tak kuasa menolak untuk
tidak mengikutinya.“Kita
kemana?” Rasya bertanya ragu-ragu.Satu
menit. Dua menit. Hingga Lima menit. Rasya hanya melemparkan matanya ke luar
kaca mobil. Melemparkan pandangannya ke berbagai arah tanpa tujuan.“Kita
temui papa mamaku, sekarang!” Mendadak wajah itu menoleh kea rah Melvin yang
masih seksama menyetir. Rasya membeku seolah tak percaya akan apa yang akan
dihadapinya.Tenang aja, Sya! Aku tahu pilihanku. Jangan khawatir!" Melvin meremas pelan jemari Rasya yang ia tahu mulai merasa was-was dan Melvin tahu apa yang gadis itu pikirkan. Dan kalau harus menyesalinya, Melvin tak bisa menyesal seumur hidup gara-gara dia terjerat dengan materi keluarganya dan harus tunduk. Membuatnya seolah tidak bisa berusaha mencapai apapun yang ingin dijalaninya. Cinta, memang butuh uang. Uang bisa dicari asal kita berusaha, sedangkan cinta yang murni dari hati, Melvin tak isa melepasnya begitu saja.Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar